Assalamu'alaikum wr. wb
Kepada sedulur-sedulur sekalian, forum masih dalam tahap development.
Mohon maaf jika masih terdapat kekurangan. Maturnuwun

    KANG SEJO MELIHAT TUHAN

    Share

    Admin
    Admin
    Admin

    Jumlah posting : 29
    Join date : 20.11.10

    KANG SEJO MELIHAT TUHAN

    Post  Admin on Thu Dec 02, 2010 1:32 pm

    Bukan salah saya kalau suatu hari saya ceramah agama di
    depan sejumlah mahasiswa Monash yang, satu di antaranya,
    Islamnya menggebu. Artinya, Islam serba berbau Arab. Jenggot
    mesti panjang. Ceramah mesti merujuk ayat, atau Hadis. Lauk
    mesti halal meat. Dan, semangat mesti ditujukan buat
    meng-Islam-kan orang Australia. Tanpa itu semua jelas tidak
    Islami.

    Saya pun dicap tidak Islami. Iman saya campur aduk dengan
    wayang. Dus, kalau pakai kaca mata Geertz, seislam-islamnya
    saya, saya ini masih Hindu. Memang salah saya, sebab ketika
    itu saya main ibarat: Gatutkaca itu sufi. Ia satria-pandita.
    Tiap saat seperti tidur, padahal berzikir qolbi. Jasad di
    bumi, roh menemui Tuhan. Ini turu lali, mripat turu, ati
    tangi: mata tidur hati melek, seperti olah batin dalam dunia
    kaum sufi.

    Biar masih muda, hidup Gatutkaca seimbang, satu kaki di
    dunia satu lagi di akhirat. Mirip Nabi Daud: hari ini puasa,
    sehari esoknya berbuka. Dan saya pun dibabat ...

    Juli tahun lalu saya dijuluki Gus Dur sebagai orang yang
    doanya pendek. Bukan harfiah cuma berdoa sebentar.
    Maksudnya, tak banyak doa yang saya hafal. Namun, yang tak
    banyak itu saya amalkan.

    "Dan itu betul. Artinya, banyak ilmu ndak diamalkan buat
    apa?" kata Pak Kiai sambil bergolek-golek di Hotel
    Sriwedari, Yogya. Apa yang lebih indah dalam hidup ini,
    selain amal yang memperoleh pengakuan Romo Kiai? Saya merasa
    hidup jadi kepenak, nikmat.

    Dalam deretan Sufi, Al Adawiah disebut "raja." Wanita ini
    hamba yang total. Hidupnya buat cinta. Gemerlap dunia tak
    menarik berkat pesona lain: getaran cinta ilahi. Pernah ia
    berkata, "Bila Kau ingin menganugerahi aku nikmat duniawi,
    berikan itu pada musuh-musuh-Mu. Dan bila ingin Kau
    limpahkan padaku nikmat surgawi, berikanlah pada
    sahabat-sahabat-Mu. Bagiku, Kau cukup."

    Ini tentu berkat ke-"raja"-annya. Lumrah. Lain bila itu
    terjadi pada Kang Sejo. Ia tukang pijit -maaf, Kang, saya
    sebut itu- tunanetra.

    Kang Sejo pendek pula doanya. Bahasa Arab ia tak tahu.
    Doanya bahasa Jawa: Gusti Allah ora sare (Allah tak pernah
    tidur): potongan ayat Kursi itu. Zikir ia kuat. Soal ruwet
    apa pun yang dihadapi, wiridannya satu: "Duh, Gusti, Engkau
    yang tak pernah tidur ..." Cuma itu.

    "Memang sederhana, wong hidup ini pun dasarnya juga
    sederhana," katanya, sambil memijit saya.

    Saya tertarik cara hidupnya. Saya belajar. Guru saya ya
    orang macam ini, antara lain. Rumahnya di Klender.
    Kantornya, panti pijat itu, di sekitar Blok M. Ketika saya
    tanya, apa yang dilakukannya di sela memijit, dia bilang,
    "Zikir Duh, Gusti ..." Di rumah, di jalan, di tempat kerja,
    di mana pun, doanya ya Duh, Gusti ... itu. Satu tapi jelas
    di tangan.

    "Berapa kali Duh Gusti dalam sehari?" tanya saya.

    "Tidak saya hitung."

    "Lho, apa tak ada aturannya? Para santri kan dituntun kiai,
    baca ini sekian ribu, itu sekian ribu," kata saya

    "Monggo mawon (ya, terserah saja)," jawabnya. "Tuhan memberi
    kita rezeki tanpa hitungan, kok. Jadi, ibadah pun tanpa
    hitungan."

    "Sampeyan itu seperti wali, lo, Kang," saya memuji.

    "Monggo mawon. Ning (tapi) wali murid." Dia lalu ketawa.

    Diam-diam ia sudah naik haji. Langganan lama, seorang
    pejabat, mentraktirnya ke Tanah Suci tiga tahun yang lalu.

    'Senang sampeyan, Kang, sudah naik haji?"

    "Itu kan rezeki. Dan rezeki datang dari sumber yang tak
    terduga," katanya.

    "Ayat menyebutkan itu, Kang."

    "Monggo mawon. Saya tidak tahu."

    Ketularan bau Arab, saya tanya kenapa doanya bahasa Jawa.

    "Apa Tuhan tahunya cuma bahasa Arab?"

    "Kalau sampeyan Dah Duh Gusti di bis apa penumpang lain ..."

    "Dalam hati, Mas. Tak perlu diucapkan."

    Ia, konon, pernah menolak zakat dari seorang tetangganya.
    Karena disodor-sodori, ia menyebut, "Duh, Gusti, yang tak
    pernah tidur ..." Pemberi zakat itu, entah bagaimana,
    ketakutan. Ia mengaku uang itu memang kurang halal. Ia minta
    maaf.

    "Mengapa sampeyan tahu uang zakat itu haram"? tanya saya.

    "Rumah saya tiba-tiba panas. Panaaaas sekali."

    "Kok sampeyan tahu panas itu akibat si uang haram?"

    "Gusti Allah ora sare, Mas," jawabnya.

    Ya, saya mengerti, Kang Sejo. Ibarat berjalan, kau telah
    sampai. Dalam kegelapan matamu kau telah melihatNya. Dan
    aku? Aku masih dalam taraf terpesona. Terus-menerus



    ---------------
    Mohammad Sobary, Tempo 12 Januari 1991

      Waktu sekarang Mon Dec 05, 2016 9:29 pm